-->

Notification

×

Iklan

Paska Banjir Menghantam Kota Tebingtinggi, Krisis BBM Pun Tak Mau Kalah, Antrean "Mengular", Penjual Eceran "Gulung Tikar"

Minggu, 30 November 2025 | November 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-30T14:04:33Z
Foto: SPBU jl. Prof H.M Yamin Kelurahan Tanjung Marulak) Hilir kecamatan Rambutan Kota Tebingtinggi


Tebing Tinggi | 88News.id: Paska Banjir Melanda Kota Tebingtinggi kini giliran krisis BBM mulai menghantam Kota Tebingtinggi, setelah banjir besar memutus akses distribusi dari Belawan dan jalur suplai Pertamina. Truk tangki terpaksa berhenti total karena rute yang biasa tak bisa dilalui, baik Jalinsum maupun jalur alternatif tidak dapat dilewati. Akibatnya, suplai Pertalite, Pertamax, hingga Solar terhenti serentak, menyisakan pembeli BBM antri panjang dan ketidakpastian.


Di tengah kelumpuhan itu, hanya satu SPBU di Jalan HM Yamin, Kelurahan Tanjung Marulak Hilir, kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi yang masih memiliki stok terbatas. Pantauan media, Minggu malam (30/11/2025), pemandangan terlihat mencolok di SPBU Jl HM. Yamin, SH. Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat terjebak dalam antrean yang "mengular" alias panjang. Beberapa pengendara kendaraan bahkan memilih menunggu sejak sore demi memastikan pulang tidak dengan tangki kosong.


“Kami tak ada pilihan. Semua SPBU lain tutup. Ini pun belum tentu kebagian,” ujar Leman seorang pengendara yang tampak lelah setelah dua jam berdiri menunggu giliran. 


Suara mesin-mesin dimatikan, percakapan antar warga mengalir putus asa. Sebuah ritme yang menegaskan betapa rapuhnya suplai energi ketika jalur distribusi tersumbat.


Di sudut-sudut kota yang biasanya menjadi tempat warga mencari alternatif cepat, para penjual bensin eceran tak kalah terpuruk. Botol kosong berjajar di lapak jualan minyak mereka, padahal biasanya botol-botol itu berwarna mencolok, kini hanya berisi bayangan.


“Sejak pagi tadi kami keliling ke beberapa SPBU, tak dapat minyak. Mau jual apa lagi?” keluh Endang penjual pertalite eceran di kawasan Jl. Sudirman, Kota Tebingtinggi.


“Orang pikir kami sengaja nggak jual minyak. Padahal kami pun kosong. Naikkan harga pun tak berani main-main bang, orang minyaknya saja tak ada", tambahnya 


Terkait kelangkaan BBM saat ini, beberapa penjual minyak ketengan memilih menutup lapaknya sementara.


Situasi kelangkaan ini bila berlangsung lama, maka dampaknya akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Ojek daring membatasi layanan, nelayan dan pekerja harian memilih menunda aktivitas, sementara angkutan kota lebih banyak parkir daripada beroperasi. Kota yang biasanya padat lalu lintas seketika terasa bergerak lebih lambat dari biasanya.


Pihak Pertamina dan Pemerintah Daerah disebut tengah membahas jalur distribusi alternatif, namun belum ada kepastian kapan suplai kembali normal. Dengan kondisi banjir yang belum sepenuhnya surut, truk tangki masih menunggu kepastian rute aman untuk beroperasi.

(Dwan Manu)

Berita Terpopuler

×
Berita Terbaru Update