-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ada Apa Dengan KDKMP, Satu Keluarga Terdampar, Pemerintah Tutup Mata

Sabtu, 09 Mei 2026 | Mei 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-09T02:40:51Z


Batu Bara | 88News.id: Isak tangis pecah di Jalan Pendidikan Lingkungan IV, Kelurahan Labuhan Ruku, Kecamatan Talawi. Satu keluarga kini terpaksa bermalam di bawah tenda plastik setelah hunian yang mereka tempati puluhan tahun diruntuhkan demi pembangunan gedung Koperasi Merah Putih (KMP), Jumat (08/05/2026).


​Fauziah (35), bersama mertua, suami, dan empat anaknya kini harus bertahan hidup di bawah terpal biru tanpa dinding. Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai rasa kemanusiaan di balik proyek pembangunan tersebut.


Kepedihan Fauziah memuncak saat membeberkan nilai kompensasi yang diterimanya. Menurut pengakuannya, pihak terkait hanya memberikan biaya ganti rugi sebesar Rp 1.500.000. Angka tersebut dinilai sangat tidak manusiawi dan mustahil untuk digunakan membangun hunian baru atau menyewa tempat tinggal yang layak.


​"Kami bingung harus ke mana. Suami hanya kerja serabutan, anak masih ada yang balita butuh susu. Uang segitu (Rp 1,5 juta) tidak cukup untuk apa-apa," tutur Fauziah dengan nada pasrah.


Meski menyadari bahwa lahan yang mereka tempati adalah milik pemerintah, Fauziah mempertanyakan keadilan dalam proses penggusuran. Ia menyoroti adanya bangunan lain di sebelah kiri Jalan Imam Bonjol Labuhan Ruku yang juga berdiri di atas lahan pemerintah namun tidak tersentuh penggusuran.


​"Kenapa hanya kami? Bangunan di sebelah kiri jalan itu sudah puluhan tahun juga di sana tapi tidak digusur. Jangan hanya kami yang merasakan kepedihan ini," cetusnya.


Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan memilukan. Keluarga ini mendirikan tenda darurat yang hanya diikatkan pada tiang-tiang kayu. Alasnya hanya berupa triplek bekas dan tikar seadanya. Untuk menghalau nyamuk, mereka menggunakan kelambu, sementara kayu bekas dibakar sebagai sumber penerangan dan penghangat di malam hari.


​Nurainun (66), mertua Fauziah yang sudah menempati lokasi tersebut selama puluhan tahun, tak kuasa menahan tangis. Ia berharap ada belas kasih dari pimpinan daerah.


​"Tolonglah Pak Bupati Batu Bara, buatkan kami rumah, kecil pun jadilah. Kami tidak tahu lagi harus tinggal di mana bersama cucu-cucu saya," isaknya.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengembang gedung KMP maupun pemerintah daerah setempat terkait kelayakan nilai ganti rugi dan nasib keluarga Fauziah pasca-penggusuran.


​Warga berharap Bupati Batu Bara segera turun tangan melihat kondisi rakyatnya yang kini "terdampar" di tanah sendiri akibat pembangunan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat miskin.

(Mukhlis)

×
Berita Terbaru Update